Perairan Barat Sumatera Jalur Migrasi Penting Paus dan Lumba-lumba Perlindungan Masih Kurang

Perairan barat Sumatera terbukti menjadi jalur migrasi penting bagi mamalia laut, terutama paus dan lumba-lumba. Hal ini terungkap dari survei udara yang dilakukan dalam ekspedisi OceanX Indonesia Mission pada Mei hingga Juli 2024.

Ekspedisi yang diikuti oleh berbagai lembaga penelitian ini menghabiskan waktu untuk menjelajahi 15.043 kilometer laut, equivalent dengan jarak dari Bali ke Kanada. Hasil survei menunjukkan 77 pengamatan dari 10 spesies cetacean, termasuk paus pembunuh dan paus pembunuh kerdil yang pertama kali terkonfirmasi di barat Indonesia.

Pengamatan di perairan ini selama ini masih terbatas, padahal keanekaragaman hayatinya sangat tinggi. Dengan hasil baru ini, jumlah spesies cetacean yang terdata di kawasan tersebut kini mencapai 23 spesies.

Mengapa Perairan Barat Sumatera Penting untuk Cetacean?

Perairan ini menyediakan habitat yang kaya akan sumber pakan penting bagi mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba. Keberadaan berbagai jenis plankton dan ikan kecil membuat kawasan ini sangat strategis untuk kelangsungan hidup mereka.

Selain itu, penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa dinamika oseanografi, termasuk perubahan arus dan suhu air, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pola migrasi mamalia laut. Faktor-faktor ini sangat penting dalam menentukan di mana mamalia tersebut beraktivitas.

Peneliti mengamati tujuh klaster habitat yang berbeda, yang masing-masing terbentuk akibat variasi bentuk dasar laut dan tingkat produktivitas perairan. Hal ini menandakan bahwa ada keanekaragaman ekosistem yang mendukung keberadaan berbagai spesies cetacean.

Peran Survei dalam Konservasi Mamalia Laut

Survei ini tidak hanya memberikan data baru, tetapi juga menjembatani kekurangan informasi yang selama ini ada terkait pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia. Dengan dokumentasi yang lebih lengkap, program konservasi dapat dilakukan lebih efektif.

“Data kami memungkinkan perencanaan konservasi yang berbasis bukti,” ujar Iqbal Herwata, salah satu peneliti dalam proyek tersebut. Selain itu, survei ini juga melibatkan kolaborasi berbagai institusi penelitian dan organisasi konservasi.

Pentingnya kolaborasi ini menunjukkan bahwa masalah perlindungan mamalia laut tidak bisa diaplikasikan secara terpisah, melainkan memerlukan kerja sama lintas lembaga. Hal ini juga berimplikasi bagi kebijakan pemerintah dalam melindungi kawasan perairan dan spesies yang ada di dalamnya.

Tantangan dalam Penelitian dan Konservasi Laut

Meski hasil survei menunjukkan kemajuan, tantangan dalam penelitian dan konservasi mamalia laut tetap ada. Salah satu tantangan utama adalah pengaruh kegiatan manusia yang semakin meningkat, seperti penangkapan ikan dan pencemaran laut.

Kegiatan ini dapat mengancam keberlangsungan hidup mamalia laut serta merusak ekosistem mereka. Oleh karena itu, pemantauan yang berkelanjutan dan kebijakan yang tepat sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Selain itu, kesadaran masyarakat tentang pentingnya melindungi mamalia laut juga perlu ditingkatkan. Education dan sosialisasi yang baik dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi keberlanjutan spesies ini.

Related posts